Ufairah el Tsurayya


ufairah el tsurayya

Abah memang tidak merasakan sakitnya mengandung, tetapi abah tahu dan menjadi saksi betapa besar perjuangan mamamu menahannya, sakit yang semakin bertambah-tambah.
Rasa sakit yang datang tanpa pandang waktu dan tempat, seperti saat  kita berbelanja di pasar Panorama ba'da Isya itu, sesekali mamamu bilang ada rasa keram-keram di pinggang (entah ini jenis rasa sakit yang kesekian, emak-emak pasti tahu). Namun rasa sakit itu seakan diabaikan, apalagi  belakangan mamamu memang sering memperbanyak jalan, demi merangsang kontraksi kelahiran (menurut anjuran dokter dan bidan). Iya mamamu mencemaskan usia kandungan yang mendekati HPL, mamamu tidak mau diinduksi dan tetap bertekad agar jangan sampai pula dioperasi.

Abah tak tahu persis kapan tepatnya mamamu mulai merasakan sakit yang lebih hebat itu. Yang abah ingat, saat membuatkan teh tawar, abah sempat melihat jarum jam dinding menunjukkan  posisi pukul 03.30 menit, iya sepertiga malam saat kebanyakan orang hanyut dalam tidur lelapnya.

Lantunan murottal ayat suci Al-Qur'an yang keluar dari corong masjid, terdengar jelas menembus fajar yang hening dingin, mengisyaratkan bahwa sebentar lagi waktu subuh tiba. Mamamu terpaksa meringis menahan rasa sakit yang muncul tak beraturan itu. 

Hingga azan subuh tiba, rasa sakit itu sepertinya semakin menjadi, sampai-sampai mamamu meminta agar abah sholat subuh di rumah saja. Namun abah berfikir, sholat subuh di masjid adalah perintah Allah, sementara jika sholat di rumah, tak akan mengurangi atau menghilangkan rasa sakitnya. Dengan hati berat, meski tak seberat beban Ibrahim saat meninggalkan Siti Hajar dan Ismail di padang tandus di jamannya, abah tetap bergegas ke masjid menunaikan perintah di subuh itu, dalam hati memprediksi proses melahirkan masih lama, mengingat waktu lahiran Ney tepat tiga belas bulan yang lalu itu, prosesnya sampai menunggu lama.

Sepulang dari masjid, abah langsung menelpon Lek Antok, ya tetangga kita yang punya mobil. Sebenarnya bisa saja menggunakan jasa Grab, hanya saja untuk hal-hal urgent seperti ini rasanya lebih baik meminta bantuan sekitar dulu karena lebih menghargai tetangga. Minta tolong untuk mengantar kita ke klinik.

Tak lebih dari sepuluh menit, AGYA Silver nya Lek Anto sudah muncul depan rumah. Langsung saja dengan perlahan-lahan abah menuntun mamamu yang tertatih berjalan sambil menahan rasa sakit menuju mobil. Kemudain memasukkan tas yang berisi pakaian bayi dan perlengkapan bersalin yang sudah disiapkan sejak beberapa hari yang lalu.
Bagaimana dengan si sulung Ney?
Saat itu Ney juga sudah bangun, bersyukur Ney tipikal anak yang tidak selalu harus ikut kemana mamanya pergi, asalkan kita pamit dengannya, dia santai sambil mendada-dada melihat kita pergi tanpa harus ada drama teriak-teriak minta ikut. Semoga terus jadi anak pengertian sampai nanti ya nak.

Siap berangkat, tak perlu  menunggu komando, Lek Anto segera melajukan  mobil menuju ke Klinik Ibu Fitri Andri Lestari, Amd. Keb yang berlokasi di Pagar Dewa, tempat dimana dulu melahirkan si sulung Ney. Dengan kondisi jalan yang sepi dan kecepatan yang hampir ngebut, tak lebih dari lima belas menit, sampai lah kita ke klinik.

Sampai di klinik, melihat mamamu yang meringis menahan sakit, petugas langsung menempatkannya di ruang bersalin sambil memeriksa tensi darah dan sebagainya. Menurut keterangan petugas, proses persalinan sudah dekat karena sudah “bukaan lengkap”.
Setibanya di ruang bersalin, bu bidan langsung  memeriksa, dan kemudian segera menuntun mamamu untuk memulai proses persalinan itu, berjuang di garis finish proses mengandung sang buah hati.  Sungguh besar perjuangan mamamu sejak mengandung dan dengan sekuat tenaga mempertaruhkan nyawa demi melahirkan, wajar saja kalau Allah sampai meninggikan tiga derajat lebih tinggi di banding abah. Semoga dalam setiap rasa sakit yang mamamu alami, menjadi pahala dan penghapus dosa.

Perjuangan sekuat tenaga mamamu yang berpeluh serta darah, diiringi support serta do’a-do’a yang mungkin terpanjatkan tanpa sepengetahuan kita, akhirnya diijabah Allah. Ya, karena Allah, karena kuasaNya, melalui proses persalinan normal, kau lahir dengan berat 3,6 kg panjang 49 cm tepat pukul 05.32 WIB pada Selasa, 27 Nopermber 2018. Segala puji dan syukur hanya kepada Allah SWT yang telah menambahkan amanah ini.
ufairah el tsurayya
Rekam jejak Ufairah el Tsurayya


Selamat datang putri kedua abah dan mama: Ufairah el Tsurayya. Ufairah yang berarti pemberani dan Tsurayyah adalah bintang. Wanita pemberani yang agung bersinar laksana bintang.


Tidak ada komentar

Terima kasih mau menuliskan komentar disini