Pandemi Pembuka Jalan untuk Berani Lebih Baik

17 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk sebuah pengabdian. Cinta dan rasa nyaman tentu telah melekat di palung jiwa. Tak ada bayangan akan berpisah sebelum limit waktu memanggil. Dalam kurun waktu itu, tentu tak melulu bahagia. Ada terjal, kerikil hingga karang yang diterjang demi sebuah perjuangan. Namun begitulah hidup. Apa pun tak ada yang kekal kecuali dzat yang Maha Kuasa. 

Pandemi Berani Lebih Baik


Medio Maret 2020

Untuk pertama kalinya bapak presiden mengumumkan kasus positif pertama di Indonesia. Kaget dan takut, dua rasa yang tak terpisahkan saat itu. Mulut hanya bisa komat kamit agar kasus pertama ini segera teratasi dan khalayak bisa hidup tenang. Tetapi semua yang terjadi begitu cepat. Harapan dan angan yang membubung kandas begitu saja. Kasus pertama berlari begitu kencang, hingga akhirnya pemerintah mengambil langkah pencegahan, salah satunya dengan memindahkan proses KBM di sekolah menjadi daring, menghentikan sementara keramaian seperti pesta dan pasar-pasar, dan sebagainya. 

Dua minggu, satu bulan, masuk bulan kedua, semua masih baik-baik saja. Setelahnya, Allahu Akbar... satu persatu para pekerja bertumbangan. Bukan tumbang karena wabah yang sedang menyerang, namun tumbang karena sejumlah karyawan terpaksa ditendang. Aku menghela napas, berat. Berharap agar kejadian ini tidak terjadi di perusahaan tempatku bekerja.

Bulan Mei 2020

Aura perusahaan mulai kurang nyaman. Angin pandemi mulai bertiup juga kiranya. Aku mulai sounding pada istri di rumah, agar dia kuat batin jika pada akhirnya aku harus keluar dari perusahaan karena dampak corona. Aku yakin dia gelisah. Tapi hidup terus berjalan. Harus siap mental pula untuk bisa bertahan mengarunginya. 

Dan di bulan Juni, Status Karyawan Lepas

Aku disodorkan pada dua pilihan. Mau bertahan dengan status tak lagi sebagai karyawan tetap atau pamit undur diri? Dua pilihan yang sulit. 
Jika bertahan, gaji pokok tak lagi diberi, pun jaminan kesehatan tak lagi disubsidi. Hanya mendapatkan bonus secuil tiap kali melakukan penjualan. 
Pamit undur diri? Mau kerja apa? Sedang anak istri mau dinafkahi. 

Akhirnya, setelah melalu proses “konfrensi meja dapur” bareng si dia, kami sepakat bertahan sembari mencoba nyari pekerjaan lain.Walau gak digaji, dapat bonus dan transport harian jadilah. 

Tapi entah mengapa semakin kemari aturan semakin sengit. Rasanya sudah tak mampu lagi. Aku bingung harus bagaimana. Nelangsa. 
Di tengah kebingungan, sang istri meminta sesuatu. Permintaan yang menurutku bagaikan oase di tengah kebimbangan. Ya, istriku memintaku resign total saja. 
“Yakin?”
“Yakin, Bang”, katanya mantap. 

Seyakin itu kah resign ?

Bohong jika tiada rasa gundah saat memutuskan resign. Ini urusan perut keluarga bro! Zaman sekarang susah nyari kerja. Tapi hidup adalah pilihan,dan setiap orang berhak memilih. Setidaknya ada beberapa alasan untukku memantapkan diri mengajukan resign.

Pertama, sudah tidak nyaman
Aku tak mau memperbudak diri dengan mengorbankan perasaan. Aku mengerti kondisi perusahaan yang juga terdampak besar dari pandemi covid ini. Tapi aku rasanya tak mampu mengikuti aturan untuk bertahan. So, lepaskanlah!

Kedua, ujian rumah tangga
Lima tahun pertama ujian dalam rumah tangga  adalah ujian ekonomi. Mungkin inilah jalan dan saatnya untuk kami menguji cinta. Setiap rumah tangga pasti harus pernah melalui masa-masa sulit itu. Bukankah akan ada pelangi setelah hujan?

Ketiga, bahwa hidup tak ada yang abadi
Walau gak berhenti sekarang, masa pensiun akan datang juga. Maka pilihan ini adalah media untuk kami menempah diri menjadi lebih baik. 

Jangan ditanya apa rasanya? Sebab tentu saja diawal-awal ada rasa canggung memeluk diri. Yang dulunya ngitung kelender nunggu gajian, kini harus berjuang dulu baru dapat rupiah. 

Pandemi Berani Lebih Baik


Mundur Satu Langkah, Melesat Seribu Langkah

Kadang ada rasa ingin berterima kasih pada pandemi. Sebab apa yang terdampak olehnya menjadi pelecut diri untuk berani lebih baik. Aku sudah tidak takut lagi. Sebab Allah telah menjamin rezeki setiap makhluknya selagi bergerak mencari rezeki. 

Bismillah....
Aku membuka usaha Lapak Ikan kolaborasi dengan istri. Sebagai anak nelayan, dia begitu paham soal jenis-jenis dan bentuk ikan laut. Sedang aku yang berdarah Palembang ini tidak sedemikian. Karena itu, kami berbagi tugas. Beliau yang ambil ikannya ke suplier, aku yang memasarkan dan mengantarkannya hingga ke daun pintu rumah pelanggan. Begitulah kami menjalani dan menikmati usaha ini bersama-sama.
Pandemi berani lebih baik
Memanfaatkan potensi yang ada di sekitar kita


Terus terang, omset memang belum seberapa. Namun harapan dan peluang pasti ada, di samping itu ada rasa bahagia saat kita bekerja untuk usaha kita sendiri. Sekecil apa pun usaha yang kita miliki, kita tetap bosnya. Untuk menjadi lebih baik, kadang kita perlu memang mundur sejenak. Lalu kemudian ambil ancang-ancang untuk berdiri tegak dan berlari hingga tiba di puncak kejayaan. 



16 komentar

  1. Kakak jadi haru bacanya, tetap semangat ini adalah langkah terbaik sepetinya, kapan ya saya bisa pesan ikan segar? Saya sering liat iklannya di Facebook

    BalasHapus
  2. ini baru positif thinking tidak menyerah dengan keadaan

    BalasHapus
  3. Sya pun bbrpa kali kepikiran untuk bkin usha sendiri.. tapi mungkin keykinan sya belum sekuat keyakinan kakak... semngat kak!!!

    BalasHapus
  4. Menginspirasi banget tulisannya, kak... saya pun penuh dilema pas pandemi ini, karena keadaan memang berubah total dan sangat memengaruhi keuangan...

    BalasHapus
  5. Bissmillah.... aku suka dengan keputusannya untuk berdiri di atas kaki sendiri dengan buka usaha.
    rezeki itu mengalir deras dari Allah, tugas kita manusia adalah membuka keran-keran rezeki agar tumpah ke kita. berdagang salah satu keran rezeki yang dilakukan Rasulullah dari kecil hingga dipertemukan dengan Ummu Khadijah ra.

    tetap yakin dan semangat kak untuk membuka keran-keran rezeki demi keluarga tercinta....Insyaallah kan berjaya nantinya. Aamiin.

    kapan ada ikan senangi dan kerong segar, tolong antar ke daun pintu rumah kami ya kak...heee

    BalasHapus
  6. Pandemi ini memang melumpuhkan perekonomian... Semoga cepat berakhir.. hmm. Sukses trus pak sunardi, semoga ikannya laris terus.

    BalasHapus
  7. tahun 2020 merupaan tahun yang bergejolak banget sih. untuk semuanya. tahun yg penuh dengan naik dan turun. semoga tahun ini kita bisa memperbaiki segalanya ya kak

    BalasHapus
  8. Banyak temanku juga yang dikeluarkan dari tempatnya kerja karena pandemi
    Bismillah y bang sunardi sama mba lia, insyaAllah ada jalan rejeki lain yang menunggu.
    Semangat.

    BalasHapus
  9. Kebayang galaunya kaya gimana .. huhu

    Tapi semoga usahanya berkah ya bang. Laris manis. Bisa mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, bisa savings juga untuk kebutuhan masa depan. Aamiin aamiin :))

    BalasHapus
  10. Masyallah.. Terharu pak. Tapi bapak hebat bisa melalui ini. Insyallah selalu ada reski dan jalan ya pak. :)

    BalasHapus
  11. Memang pandemi ini rasanya nano-nano banget. Kita mesti santer memutar otak untuk terus atau menetap. Semoga usahanya selalu dilancarkan ya, Pak.

    BalasHapus
  12. Usaha tidak menghianati hasil pak. Semoga dimudahkan dan dilancarkan usahanya. Aamiin

    BalasHapus
  13. semangat pakk.. tapi aku lihat sama mak lia kompak banget deh. sukses sampai ke surga-Nya

    BalasHapus
  14. I just wanna say "Me tumse pyar karti ho, bhai ji".

    BalasHapus
  15. tertutup satu pintu, ada banyak pintu yang lain.. semoga semakin lancar usahanya.. aamiin

    BalasHapus

Terima kasih mau menuliskan komentar disini